SMA PLUS DARUSSALAM

SMA PLUS DARUSSALAM
Name

SMA PLUS DARUSSALAM

Adalah lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan Nasional

Pemuda adalah bunga bangsa

Pemuda adalah bunga bangsa. Perlu dipupuk dan dijaga. Kelak jika waktunya tiba ia akan menebarkan harumnya.

KELAS BAHASA ARAB

Pembekalan Muhaddatsah bahasa Arab di kelas XII-Bahasa SMA Plus Darussalam berjalan setiap hari guna meningkatkan stimulus "Mudah berbicara bahasa Arab."

Kenal Alam Tingkatkan Pengetahuan

Halaman SMA Plus Darussalam yang hijau amat mendukung frestisitas otak siswa untuk membaca.

KOSTRADAMA Lantik Pasukan Baru

Komando Strategi Darussalam Malang (KOSTRADAMA) menggelar Persami Pendadaran Pasukan Inti Baru di Bumi Perkemahan Sumberawan Malang.

BAHAN BEKAS SUMBER KREATIFITAS

Aktifitas siswa yang kreatif mampu menghasilkan suatu benda yang menarik.

Senin, November 13, 2017

LDKS 2017 – TANAMKAN CINTA ALAM




          Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) SMA Plus Darussalam tahun 2017 mengusung konsep “Tanamkan Cinta Alam”. Sejumlah permainan dilakukan di alam terbuka dan diakhiri dengan menanam pohon. Penghijauan ini sengaja dikemas bersamaan dengan LDKS agar siswa-siswi lebih dekat dan cinta dengan alam.
          Kampung Pancar Air, desa Cowek kecamatan Purwodadi kabupaten Pasuruanlah yang menjadi setting LDKS ini. Disebut sebagai kampung pancar air karena desa tersebut mempunyai 39 mata air yang masih tetap lestari. Kelestarian alam yang tetap dijaga oleh masyarakat desa Cowek inilah yang menarik perhatian panitia LDKS untuk memilih tempat tersebut sebagai lokasi LDKS sekaligus obyek penghijauan.
          Sejumlah permainan outbound diikuti dengan semarak oleh setiap peserta. Di antaranya permainan oper tali, transfer air, semesta kecil, memasukkan stik ke dalam botol, tusuk balon, dan lain-lain.
“Permainannya tidak sebanyak tahun kemarin karena waktunya kita bagi dengan kegiatan tanam pohon. Tetapi peserta tetap senang sih, soalnya sambil wisata renang juga”, terang P. Arifan, salah satu pembina Outbound, yang disambung dengan tertawa lepas.
“Yang paling menantang itu permainan transfer air, karena mainnya menggunakan mulut dan ditransfer ke ember”. Imbuh pembina muda yang masih berumur 21 tahun tersebut.

“Semoga LDKS di Kampung Pancar Air ini menumbuhkan rasa ketangguhan anak-anak, juga rasa cinta alamnya”. Ujar kepala sekolah SMA Plus Darussalam, Ust. Zaenudin, SE. - DNT Report

Rabu, November 08, 2017

Pendidikan Karakter Tangkal Radikalisme



JAKARTA - Gencarnya infiltrasi ideologi radikalisme perlu ditangkal dengan menguatkan pendidikan karakter pada anak. Terutama pada nilai-nilai nasionalis yang meliputi cinta pada Tanah Air, menghargai keberagaman, menghormati perbedaan keyakinan, bangga menjadi bangsa Indonesia serta berintegritas dan bertanggung jawab. 

Staf ahli Mendikbud Bidang Pembangunan Karakter Arie Budhiman mengatakan, radikalisme di kalangan pelajar memang perlu menjadi perhatian dan perlu dicegah penyebarannya. Namun dia menegaskan bahwa tidak bisa juga kalau ada hasil survei suatu lembaga yang menggeneralisasi bahwa pelajar-pelajar saat ini sudah berpaham radikal. 

”Secara teknis survei harus dilihat lagi apakah respondennya representatif dan hasilnya valid,” katanya. Mantan Kadis Pendidikan DKI Jakarta itu melanjutkan, di sisi lain survei ini penting agar pemerintah dan masyarakat lebih meningkatkan pertumbuhan penguatan pendidikan karakter (PPK). Menurut Arie, PPK menjadi program pemerintah untuk menangkal radikalisme di kalangan pelajar. Implementasi PPK dilakukan secara bertahap. Pada 2017 Kemendikbud menargetkan 1.626 sekolah sebagai rintisan PPK yang akan memberi dampak pada sekira 9.830 sekolah di sekitarnya. Sementara itu, menyematkan stigma negatif ke kalangan pelajar dan mahasiswa dinilai tidak bijak karena bisa mengikis optimisme pada hal-hal yang positif. 

Seperti halnya menyematkan stigma radikalis di kalangan pelajar dan mahasiswa yang justru akan berefek pada lingkungan sosial dan mengganggu tumbuh kembang generasi muda yang sedang dalam tahap pencarian jati diri untuk menjadi manusia yang mandiri. Demikian penilaian dari pakar pendidikan Doni Koesoema menanggapi survei ”Potensi Radikalisme di Kalangan Pelajar dan Mahasiswa” yang dilakukan oleh Alvara Research Center. ”Kenapa penyematan radikalisme itu tidak tepat? Karena itu bisa menimbulkan efek negatif, bisa disamakan dengan ekstremis dan lain-lain yang meng arah pada hal negatif,” kata Doni Koesoema kemarin. Penyematan radikalis itu para meternya tidak jelas. 

Sebenarnya atas dasar pertanyaan apa kemudian itu disebut radikal? Belum lagi dari sisi bahasa di mana seorang yang punya pemahaman radikal dalam beragama juga belum tentu negatif karena artinya memahami nilai dan ajaran agama hingga ke akarnya. Demikian juga ketika radikalis itu disandingkan dengan kelompok fundamentalis yang selalu merujuk pada ajaran awal dari apa yang diyakini dalam paham keagamaannya. ”Artinya tidak bisa begitu saja boleh menyematkan cap radikalis kepada mereka hanya dengan mengacu pada pertanyaan setuju atau tidak terhadap penerapan perda syariah misalnya, kemudian ketika setuju diasumsikan bahwa kelompok itu juga bagian dari yang setuju dengan paham jihad melalui bom bunuh diri. Itu tidak clear,” katanya. 

Menurut dia, tidak bisa disimpulkan kelompok tertentu sebagai radikalis, termasuk dalam hal ini kalangan pelajar dan mahasiswa, dengan cara melakukan suatu riset yang para meternya tidak jelas dalam men defisinikan apa yang disimpulkan itu. 


Sumber: https://nasional.sindonews.com/read/1253825/144/pendidikan-karakter-tangkal-radikalisme-1509603790

Mendikbud: Pendidikan Indonesia Alami Kemajuan Signifikan



JAKARTA - Sektor pendidikan di Indonesia telah mengalami kemajuan yang signifikan. Salah satu indikatornya adalah sebanyak 72,3% anak usia dini di Indonesia telah mengikuti proses pendidikan. 

Fakta tersebut disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy dalam Sidang Umum United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) Ke-39 di Paris, Prancis. 

”Pemerintah Indonesia memberikan perhatian penuh pada upaya peningkatan akses pada layanan pendidikan yang berkualitas sebagai langkah penting dalam menyukseskan semua tujuan pembangunan berkelanjutan,” katanya di hadapan delegasi anggota UNESCO dari seluruh dunia. 

Sidang umum ke-39 ini berlangsung sejak 31 Oktober sampai dengan 15 November 2017 dengan lima komisi, yaitu komisi pendidikan, komisi kebudayaan, komisi sains, komisi sosial dan humaniorasertakomisiinformasi dan komunikasi. Saat ini UNESCO memiliki 194 negara anggota dan 8 anggota asosiasi. 

Awal tahun ini Indonesia dianugerahi penghargaan UNESCO untuk pendidikan perempuan dan wanita atas program yang dianggap luar biasa dalam pengarus utamaan gender. Muhadjir mengungkapkan angka partisipasi untuk sekolah dasar sudah lebih dari 100%, tingkat putus sekolah sudah turun juga menjadi 0,26%, dan tingkat melek huruf di kalangan muda telah mencapai hampir 100%. 

Dia menjelaskan, adanya Program Indonesia Pintar menjadikan pendidikanpunmajusignifikan. Terkait upaya menghadapi bonus demografi, langkah strategis yang dilakukan ialah merevitalisasi kurikulum nasional dengan mengintegrasikan karakter, kompetensi, dan literatur untuk membekali para peserta didik dengan keterampilan abad ke-21. 

”Sebagai upaya meningkatkan produktivitas dan daya saing bangsa, revitalisasi pendidikan kejuruan juga menjadi prioritas utama yang baru saja kita mulai,” ujarnya. Kemajuan pendidikan di Indonesia pun ditopang oleh sekolah swasta. 

Board Chairman Sinar Mas World Academy (SWA) Anton Mailoa mengatakan, sekolahnya juga berkomitmen memajukan pendidikan di Indonesia. Dia menjelaskan, dua kurikulum dipakai di sekolahnya, yakni International Baccalaureate (IB) dan Cambridge. 

Namun kurikulum nasional juga tetap berlaku sehingga siswa juga akan mengikuti ujian nasional yang diselenggarakan Kemendikbud. Dia menerangkan, seiring perkembangan zaman teknologi informasi akan diperlukan generasi muda untuk masa depannya kelak. 

Oleh karena itu, di lingkup sekolah, teknologi sebaiknya dipakai untuk mengembangkan keterampilan penelitian dan pembelajaran berbasis penyelesaian masalah. ”Kita juga harus ajarkan robotik agar siswa bisa belajar membuat program, mengendalikan dan merancang pengujian robot otonom,” jelasnya. 

Manajer Bisnis SWA Deddy Djaja Ria menambahkan, Pancasila juga diajarkan kepada siswa asing. Tidak hanya mempelajari, tetapi juga mengamalkannya. Selain belajar Pancasila, bahasa Indonesia dan budayanya juga wajib dipelajari. 

"Total siswa ada 400 siswa, sebanyak 40% siswa asing dan 60% lokal. Lalu 120 guru yang 70%-nya guru asing. Tapi kami tetap memakai metode belajar yang disesuaikan dengan pemerintah," katanya. 

Uniknya, untuk mengenalkan lebih dekat tentang budaya Indonesia, para siswanya sering diajak mengunjungi daerah, terutama destinasi pariwisata. Dengan mengunjungi langsung, siswa asing diharapkan bisa menceritakan apa yang dilihat.


Sumber: https://nasional.sindonews.com/read/1254817/144/mendikbud-pendidikan-indonesia-alami-kemajuan-signifikan-1509938303

JK Sebut Pendidikan Harus Bisa Secanggih Sistem Ojek Online


Wakil Presiden Jusuf Kalla melakukan kunjungan kerja ke Makassar, Sulawesi Selatan. Dia bersama Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo meninjau dan meresmikan sistem online dalam dunia pendidikan di Sulsel, yang diberi nama JK e-Panitra Centre.Pada kesempatan itu, pria yang akrab disapa JK ini meminta agar para guru harus lebih mengikuti perkembangan teknologi. Jika tidak, murid akan bisa jauh lebih pintar.

"Guru harus mengikuti perkembangan. Kalau tidak bahaya, bisa-bisa murid lebih pintar dari guru. Karena ilmu itu bisa diperoleh kapan saja, di mana saja. Bisa pakai Google," kata JK di Kantor Dinas Pendidikan Sulsel, Jumat (28/7/2017).
Dia berharap, sistem JK e-Panitra Centre ini bisa membuat guru selalu mengikuti silabus dan sistem yang terus diperbarui dengan kondisi yang ada. Kinerja guru pun bisa dipantau, baik dalam sistem pengajarannya maupun kelakuannya.

Hal tersebut bisa dilakukan dengan meniru sistem ojek online. Sistem ojek online bisa mengawasi para pengemudinya, apakah memberikan pelayanan terbaik atau tidak."Gojek saja bisa memantau yang punya pengemudi ratusan ribu. Masak 12 ribu guru di sini, enggak bisa dipantau?" ungkap Jusuf Kalla.Namun, ini bukan berarti pemerintah tidak percaya kepada guru. Justru, lanjut dia, pemerintah ingin kualitas guru semakin baik. Terlebih dia percaya, apapun sistemnya, kunci utama guru tetap pada kejujuran.

"JK e-Panitra ini bukan tidak percaya kepada guru. Tetapi agar sistem itu jalan. Apabila murid harus sekolah jam 07.50 masuknya, guru harus lebih dulu (hadir)," tegas Jusuf Kalla.

Sementara, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, menuturkan sistem ini dibangun agar anak-anak di Sulsel mempunyai karakter dan cerdas. Dia juga tidak ingin anak-anak di Sulsel tak ketinggalan dengan negara lain."Kita tak mau anak-anak kita ketinggalan dengan di Jepang dan Thailand. Kita terapkan gayanya Pak JK dalam sistem ini," tandas Yasin.

JK e-Panitra Centre menyediakan beberapa sistem, di antaranya absensi online, e-learning, video conference, entertainment & news, e-polling, guru untuk data pendidikan, e-budgetting, dan CCTV sekolah.

Sumber: http://news.liputan6.com/read/3038551/jk-sebut-pendidikan-harus-bisa-secanggih-sistem-ojek-online

Kondisi Pendidikan di Daerah Masih Belum Penuhi SNP




 Berbagai permasalahan dibidang pendidikan masih banyak ditemukan, hal itu tercermin dari beberapa hasil temuan kunjungan kerja Komisi X DPR RI, yakni antara lain mengenai kualitas siswa masih rendah, pengajar kurang profesional, jumlah guru terbatas, biaya pendidikan masih mahal, sarana dan prasarana yang tidak memadai, serta angka putus sekolah yang juga masih tinggi.

Demikian dikatakan Wakil ketua Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih saat rapat dengar pendapat umum Panja Evaluasi Pendidikan dasar dan Menengah Komisi X DPR dengan dengan Ketua Dewan Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (24/08/2017).

“Kondisi pendidikan di daerah masih banyak yang belum memenuhi standar nasional pendidikan (SNP). Berdasarkan hasil evaluasi pemenuhan standar nasional pendidikan yang telah disampaikan oleh pemerintah pada rapat sebelumnya dipaparkan bahwa permasalahan pencapaian pemenuhan standar nasional pendidikan banyak terkendala pada empat standar, yaitu standar kompetensi lulusan, standar sarana dan prasarana, standar pendidik dan tenaga kependidikan, serta standar pengelolaan,” jelas Fikri.

Menurutnya, penyelesaian masalah penyelenggaraan pendidikan dasar dan menengah itu, sejatinya menjadi tugas seluruh pemangku kepentingan, termasuk didalamnya Dewan Pendidikan Provinsi.

“Kami ingin mendapatkan informasi, data dan masukan terkait bagaimana Dewan Pendidikan Provinsi dalam perencanaan, pengawasan dan evaluasi program pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Terutama tentang peran Dewan Pendidikan Provinsi dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan; peran dan kontribusi Dewan Pendidikan Provinsi dalam memberikan pertimbangan, arahan dan dukungan tenaga serta sarana dan prasarana pendidikan; peran dan kedudukan, serta pola kebijakan Dewan Pendidikan Provinsi dalam melakukan pengawasan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah; serta bagaimana kondisi terkini pendidikan dasar dan menengah di tingkat provinsi menurut Dewan Pendidikan,” ucapnya.

Dalam paparannya, Ketua Dewan Pendidikan Provinsi DKI Jakarta mengatakan bahwa Dewan Pendidikan sebagai mediator dan merupakan wadah peran serta masyarakat sekaligus sebagai pengawas keterlibatan masyarakat dalam pendidikan perlu didukung, dan dilengkapi dengan instrumen kewenangannya. Perannya sebagai badan pengontrol terhadap perencanaan pendidikan antara lain melakukan kontrol terhadap proses pengambilan keputusan di lingkungan Dinas Pendidikan, termasuk penilaian terhadap kualitas kebijakan yang ada.

Dewan pendidikan juga dapat melakukan fungsi kontrol terhadap proses perencanaan, termasuk kualitas perencanaan pendidikan. Mengingat keterbatasannya, maka dilapangan untuk tingkat sekolah diperlukan penguatankomite sekolah untuk menjalankan tupoksinya.





Sumber: http://news.liputan6.com/read/3073926/kondisi-pendidikan-di-daerah-masih-belum-penuhi-snp

Tanamkan Pendidikan Karakter dengan Ibadah Amaliyah - SMA PLUS DARUSSALAM LAWANG




       Penguatan pendidikan moral (moral education) atau pendidikan karakter (character education)  dalam konteks sekarang sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda di negara kita. Krisis tersebut antara lain berupa meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kejahatan terhadap teman, pencurian remaja, kebiasaan menyontek, penyalahgunaan obat-obatan, p0rn0grafi, dan perusakan milik orang lain sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas, oleh karena itu betapa pentingnya pendidikan karakter.

       Seirama dengan hal tersebut SMA Plus Darussalam mengaplikasikan kegiatan keagamaan dalam bentuk Ibadah Amaliyah pagi dan siang, Khotmil qur'an bulanan, serta Istighosah mingguan. Tak lupa, setiap akhir dari kegiatan tersebut dilengkapi dengan ceramah dari asatidz.

"Inilah nilai plus yang kita galakkan. Siswa-siswi mendapat wawasan agama yang banyak", tutur Kepala SMA Plus Darussalam, Ust. Zaenudin, S.E.